Rinjani, Syurga Ekowisata Lombok Utara

TUHAN, sepertinya sayang pada daerah ini. Diberikan alam yang indah dengan keanekaragaman hayati, sehingga siapa saja yang berwisata, menjelajahi hutan Rinjani, mereka akan terkesan; Rinjani memang sangat menarik dan menantang untuk dikunjungi.

Bukan samapi di situ, dari hasil ekspedisi penjelajahan yang dilakukan para ekspeditor di hutan Rinjani, flora dan fauna di kawasan ini pun memiliki keunikan tersendiri. Demikian keragaman flora dan fauna yang ada, membuat hutan Rinjani disebut syurga bagi ekowisata di Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Kawasan hutan gunung Rinjani memiliki luas definitif 125.200 Ha. (SK Dewan Pemerintahan Daerah Lombok No.433/AGRI/6/1947). Dimana 41.330 Ha (SK kemenhut RI No.280/Kpts-IV/1997) merupakan taman nasional yang dihuni oleh aneka flasma nuftah flora fauna. Diantaranya 160 jenis tumbuhan, 63 jenis satwa berupa burung Koak Kaok (Cikuakua), Punglor dan Kepodang Kuduk Hitam.

Bila hendak melakukan pendakian ke gunung Rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 meter, maka kita akan temukan sebuah dusun bernana Torean. Masyarakat dusun ini, merupakan potret usang masyarakat pinggiran hutan,  pernah diklaim oleh para elit pemerhati lingkungan bahwa, masyarakat inilah yang selalu merusak hutan, termasuk ekosistemnya. Padahal tuduhan itu semata-mata tidaklah benar.

Bila kita sudah memasuki pintu hutan Torean, maka kita seakan berada dalam cengkraman hutan Rinjani yang kokoh. Pohon-pohon besar berdiameter  raksasa terlihat jelas, seakan menantang para pendaki untuk terus berlama-lama tinggal, sembari mengamati dan meneliti aneka flora dan fauna.

Akhirnya para pendaki hanya bisa geleng-geleng kepala ketika menyaksikan potensi ekowisata gunung Rinjani. Jika dibandingkan dengan hutan Afrika yang hanya memiliki binatang yang berlimpah dan sedikit tumbuhan. Sedangkan di Indonesia, kaya kedua-duanya, termasuk di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang habitat Lutung (monyet hitam) masih banyak. Jika ditelusuri, berapa banyak potensi ekowisata yang bisa digarap. Baik berupa taman nasional, taman laut (obyek wisata bahari), tman budaya, kebun raya, hutan lindung dan hutan kemasyarakatan.

Di samping kondisi alam, keanekaragaman flora fauna serta adanya fenomena yang khas masyarakat, semuanya akan menjadi saksi dalam perjalanan melakukan ekowisata ke Rinjani. Tak ketinggalan pula, setelah tiba di danau Segara Anak, sempatkan diri untuk mampir sebentar di Gua Susu atau goa-goa yang lain yang indah dengan aneka ornamen gua yang menakjubkan.

Di pinggir danau Segara Anak, kita dapat menyaksikan gugusan Gunung Baru Jari yang indah dengan hamparan air yang menyejukkan. Sesekali pula menyaksikan kaldera atau kawah Rinjani dengan diameter 6 KM. Satu lagi yang penting dalam ekowisata adalah, kondisi adat dan budaya masyarakat setempat yang kuat. Unsur inilah yang membuat warga Torean khususnya dan Bayan umumnya, dapat dimasukkan dalam potensi ekowisata di daerah dengan motto Tioq Tata Tunaq ini.

Menurut teori, yang diutamakan dalam berekowisata adalah, wahana pelestarian alam, pengembangan ekonomi berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Suatu daerah akan menjadi daerah tujuan wkowisata unggulan, apabila memiliki empat unsur penting. Ke empat unsur itu meliputi, kondisi alam, kondisi flora fauna, kondisi fenomena dan kondisi adat dan budaya.

Melihat banyaknya potensi, sudah seharusnya Torean menjadi syurga bagi ekowisata. Yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pariwisata, pelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat lokal. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru