KM TNC. Minuman tradisional buah lontar (oi ta’a), melintasi sepanjang jalan lintas Bima-Sape tepatnya di sebelah Timur Terminal Kumbe Kota Bima kita akan menemukan kedai-kedai Oi ta’a atau air lontar yang dijual warga di Oi Mbo Kelurahan Kumbe. Nama Oi Mbo tercatat dalam legenda Tanah Bima nama kampung ini di berikan oleh raja Indra Zamrud untuk mengenang adiknya Indra Komala yang telah memakjulkan diri disebuah mata air di ujung selatan kampung Oi Mbo, karena adanya perselisihan di antara keduanya yang disebabkan oleh Mata Pancing Indra Zamrud yang di hilangkan oleh Indra Komala.

Nama Oi Mbo berasal dari Oi Mbora (air yang hilang) karena di mata air itulah Indra Komala menenggelamkan diri hingga menghilang.


Memperoleh air lontar tentu tidaklah mudah. Hanya orang-orang tertentu dan yang memiliki keahlian memanjat pohon lontar yang dapat mengambilnya. Karena ketinggian pohon-pohon lontar antara 25-30 meter. Untuk memanjat pohon lontar, masyarakat Oi Mbo biasa menggunakan “Rangge” yaitu semacam tangga yang dibuat dari bambu yang di kenal dengan O’o Todo. Bambu ini adalah memang jenis bambu yang biasa digunakan untuk memanjat pohon lontar karena disetiap ujung pangkalnya dapat dipasangkan kayu sebagai tempat pijakan pada saat memanjat.


Waktu yang tepat mengambil air lontar adalah pada pagi dan sore hari setelah disimpan semalam, sementara produksi air lontar yang melimpah di Oi Mbo berlangsung dari bulan April hingga Agustus. Meminum air lontar yang segar adalah pada saat baru diambil  dari pohonnya. Disamping airnya, lontar memiliki banyak manfaat antara lain daunnya dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas rokok, bahan topi dan payung (Paju Longge) dalam upacara-upacara adat Bima dan buahnya sangat gurih untuk dimakan. () -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru