Mengintip Sisi Lain Pantai Selong Belanak

Tak diragukan lagi keindahan dan eksotiknya pantai-pantai di Pulau Lombok, mulai dari ujung selatan hingga utara terhampar serpihan-serpihan surga kecil nan indah. Pasir putih laut biru akan memanjakan mata, desiran ombak yang memukul karang membuat simponi indah untuk pantai Selong Belanak, di Praya Tengah, Lombok Tengah di Nusa Tenggara Barat.

Ketika ke Lombok di Kota Mataram, Secara tidak sengaja saya diajak ke Selong Belanak, penasaran juga dengan pantai itu dan  sering juga foto-fotonya di upload pada media sosial membuat saya bersemangat untuk mengiyakan ajakan kawan.

Dari kota Mataram menuju Selong Belanak memakan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan memakai sepeda motor, ketika sudah sampai di tempat ada retribusi masuk yaitu satu motornya hanya Rp.5.000 dan sekalian parker.


Aroma pantai yang dibawa oleh angin sangat menggoda ketika di arena parkirnya, pantai tertutup oleh kios dan warung-warung yang berjejer dan banyak terlihat wisatawan mancanegara berlalu lalang menuju pantai. Ketika memasuki areal pantai mungkin satu kata untuk tempat ini “Wow” pantai dan ombaknya yang indah dan dihiasi oleh banyak pengunjung berselancar.

Satu jam menikmati suasana pantai mata saya teralihkan disebelah utara terdapat perahu-perahu yang berjejer di bibir pantai, terlihat seorang Bapak dengan wajah serius sedang membuat perahu, sayapun tergoda untuk mendekatinya dan mengambil beberapa foto.

Setelah mendekati Bapak tersebut, dia tersenyum menyambut kehadiran saya kemudian sebaliknya sayapun membalas senyuman si Bapak, sebuah obrolan dimulai dengan membahas tentang perahu yang sedang dibuatnya, ternyata perahu tersebut pesanan salah satu warga. Kamipun berkenalan, namanya Umbu seperti nama orang Ende pada umumnya.

Sayapun bertanya, apakah bapak orang Ende, dia menjawab iya betul, Bapak Umbu datang ke Selong Belanak sejak tahun 1980-an kemudian menetap dan menikah dengan wanita di Selong Belanak.

Obrolan singkat dengan bapak Umbu membuat kami berdua terasa sangat akrab, sayapun mohon diri untuk berkeliling desa, memasuki desa salah satu aroma yang sangat khas dari daerah pesisir yaitu aroma ikan kering yang dijemur. Saat itu kebetulan jam 1 siang banyak para nelayan sedang asik beristirhat dan tidur mengumpulkan tenaga untuk melaut nanti malam.

Langkah kaki saya lebih kedalam memasuki desa, godaan aroma ikan yang digoreng sangat membuat perut berontak, ternyata yang sangat menarik di desa Selong Belanak ini bukan hanya Suku Sasak yang tinggal juga ada beberapa orang Bugis yang menetap.

Kebanyakan rumah penduduk desa dibuat dengan kayu dan bedek bamboo, didepan rumahnya para Ibu-ibu memperbaiki jarring ikan dan membuat Baren yaitu sisa dari karung semen dibuat seperti bunga, Baren ini gunanya untuk menempelnya benih Lobster yang nantinya untuk dijual pada pengusaha budidaya lobster.


Para pemuda desa jika tidak melaut biasanya mereka pergunakan waktu luangnya untuk menjual cinderamata atau mengajarkan kepada wisatawan bermain Surfing, tarif untuk kursus singkat Surfing bekisar Rp.400.000 hingga Rp.500.000 penghasilan yang lumayan besar yang didapat dalam sehari.

Tak terasa satu jam saya berkeliling di desa Selong Belanak, dan perut mulai berontak, bergegas saya mencari kawan-kawan yang dari tadi sudah terpisah dengan saya, ternyata mereka sudah berada di salah satu warung makan , satu porsi mie telur disini dijual Rp.8.000 lumayan untuk menghilangkan bunti gendang dalam perut.  

Lihat Foto Selong Belanak Yang Lain  () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru