logoblog

Cari

Bukit Bintang Tiga Rasa, “Trending Tour” Desa Wisata

Bukit Bintang Tiga Rasa, “Trending Tour” Desa Wisata

Potensi desa dengan berbagai bentuk keindahan alamnya kini menjadi “trending tour”. Kini, wisatawan banyak menjelajah ke wisata desa. Hal ini dimungkinkan

Wisata Jalan Jalan

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
26 Mei, 2019 20:53:25
Wisata Jalan Jalan
Komentar: 0
Dibaca: 11509 Kali

Potensi desa dengan berbagai bentuk keindahan alamnya kini menjadi “trending tour”. Kini, wisatawan banyak menjelajah ke wisata desa. Hal ini dimungkinkan karena dengan berwisata ke berbagai desa tentu dapat melihat berbagai macam bentuk kearifan lokal dan keunikan sumber daya alam desa yang mempesona. Salah satu wisata desa yang kini mulai gencar di mata wisatawan adalah wisata Desa Gelangsar dengan andalan panorama indah di Bukit Bintang Tiga Rasa.

Bukit Bintang Tiga Rasa merupakan salah satu dari tiga bukit yang berjejer di Desa Gelangsar, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Propensi Nusa Tenggara Barat. Bukit yang terletak di Dusun Songoran ini memiliki panorama alam hijau yang sungguh indah dan mempesona.

Bila melepas pandang dari atas bukit ini, gugusan bukit  dan lembah hijau tampak indah dan memukau. Letaknyapun sangat strategis untuk menyaksikan  indahnya Kota Mataram. Demikian juga dengan kawasan Lombok Barat, yaitu khususnya Pantai Senggigih di bagian utara hingga ke Pantai Sekotong bagian selatan dapat disaksikan dari atas Bukit Bintang Tiga  Rasa. Para pengunjung atau wisatawan yang jika menyempatkan diri menginap di  sebuah tenda pribadi atau di rumah warga yag disewakan, mereka pun dapat menikmati dan menyaksikan indahnya matahari pagi (sunrise) dan matahari senja (sunset) di satu tempat.

Muhad, selaku stap Desa Gelangsar dan juga sebagai Kordinator Pokdarwis di Dusun Songoran mengatakan, “Berkat banyaknya pengunjung atau wisatawan yang sering datang di bukit ini, kami dari kelompok pemuda yang ada di dusun ini sengaja bangun sejumah gardu lepas pandang dengan berbagai bentuk dan penampilan yang menarik, biar wisatawan lebih tertarik untuk berkunjung, dan juga agar mereka lebih leluasa menyaksikan panorama alam hijau yang ada di sekitar, “ ujarnya ketika ditemui di sebuah gazebo yang berada di puncak Bukit Bintang Tiga Rasa.

Penampilan elok nan klasik dari gardu-gardu lepas pandang tersebut merupakan hasil kreatifitas dari kelompok pemuda yang bergerak di bidang pengembangan wisata desa atau Kelompok Pemuda Sadar Wisata (Pokdarwis). Gardu-gardu lepas pandang ini sengaja dirancang  dengan sedemikian rupa eloknya, dan bahan-bahannya pun terbuat dari kayu dan bambu yang diambil dari alam bukit ini sendiri.

Sebuah gardu lepas pandang yang bentuk bangunannya dirancang seperti perahu adalah menjadi spot utama. Bangunan ini pun juga menjadi spot pertama yang akan ditemukan jika kita berkunjung di kawasan bukit ini. Berada di atas gardu lepas pandang yang satu ini, pengunjung atau wisatawan dapat menikmati betapa indahnya panorama alam hijau yang ada pada wilayah bagian bawah dan yang ada pada bagian wilayah yang cukup jauh.  

Dua buah gardu lepas pandang lain yang terlihat klasik menjadi pendukung daya tarik wisata di Bukit Bintang Tiga Rasa. Kedua gardu lepas pandang  tersebut berbentuk tangga kayu dan melingkar ke atas dengan mengikuti arah ketinggian pohon yang tempatnya besandar. Pada puncak anak tangga kayu tersebut terpasang gazebo kecil yang berfungsi sebagai spot untuk melepas pandang ke panorama alam sekitar. Letaknya pun tak jauh dari gardu lepas pandang utama, yaitu berada pada bagian depan. Hanya saja memiliki ukuran yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan spot utama yang berbentuk perahu. Dari ketinggian inilah para pengunjung atau wisatawan dapat memandang bebas ke bagian bawah atau ke  panorama alam hijau yang cukup jauh dari pandangan mata.  

Dari semua gardu lepas pandang yang ada di Bukit Bintang Tiga Rasa, salah satu diantaranya yang paling digemari oleh pengunjung yang berusia remaja adalah sebuah gardu lepas pandang yang terletak di ujung tebing dari Bukit Tiga Rasa. Bentuk gardu lepas pandang yang satu ini adalah sangat sesuai dengan simbol gejolak jiwa remaja. Bentuk atau model “Love” adalah milik dari spot yang satu ini. Sebenarnya, spot ini juga merupakan sebuah gazebo, hanya mememiliki bentuk yang sangat unik dan klasik. Pintu masuk pada gazebo cantik ini dihiasi oleh sebuah bingkai yang berbentuk “Love” yang terbuat dari rajutan tangkai bambu kecil yang runcin, sehingga ketika seorang atau sepasang remaja yang duduk berhadapan pada tempat duduk yang telah disediakan di dalam gazebo cantik ini, layaknya berada di dalam sebuah poto berbingkai “Love”, dan berlatar pemandangan alam hijau yang asri.  Selain itu, menuju ke spot atau gardu lepas pandang “Love” yang satu ini, para pengunjung harus melewati sebuah titian bambu yang berbentuk klasik. Titian klasik tersebut terbuat dari deretan potongan-potongan  bambu yang terangkai rapi dan kuat.

Selain itu, mengenai nama Bukit Bintang Tiga Rasa, yaitu diambil dari sebuah cerita sejarah yang datang dari warga setempat. Menurut Muhad selaku stap Desa Gelangsar bahwa kata “Tiga Rasa” diambil dari tiga kali tembakan. Artinya, pada zaman kerajaan dulu di Lombok, yaitu ketika masa Kerajaan Karang Asem, dimana seorang Syekh yang berasal dari luar Pulau Lombok menyebarkan ajaran agama Islam di pulau ini. Salah satu sasaran penyebaran Islam dari Syekh tersebut adalah pada wilayah Kerajaan Mambalan. Konon cerita, para pasukan Kerajaan Mambalan mendapat interpeksi dari Syekh tersebut bahwa mereka selalu melakukan pergaulan tidak sehat, seperti mabuk-mabukan dengan minuman keras, main perempuan, dan perjudian.  Namun, dari pihak Kerajaan Mambalan tidak sudi mendengarkan tuduhan tersebut, akhirnya mereka minta bantuan kepada Kerajaan  Karang Asem agar Syekh tersebut mati tertembak. Mendengar berita tersebut, Raja Karang Asem memerintahkan Anak Agung untuk melakukan pembunuhan kepada Syekh tersebut. Lanjut cerita, pada sebuah lembah yang ada di bawah kaki bukit Desa Gelangsar, Anak Agung berhasil mengenakan tembakan pada Syekh tersebut, namun Syekh tersebut masih tetap kuat untuk berlari ke atas bukit. Pada pertengahan bukit, Anak Agung kembali melepaskan peluru ke tubuh Syekh tersebut, dan tetap berhasil mengenakan tembakan yang ke dua kalinya, namun Syekh tersebut masih memiliki kekuatan untuk tetap berlari dan menyelamatkan diri. Nah, di saat Syekh tersebut berhasil mencapai puncak bukit tersebut, secara tiba-tiba ia pun terkena tembakan yang ketiga kalinya dari senjata Anak agung. Pada puncak bukit inilah seorang Syekh yang terkenal sebagai penyebar ajaran Islam di Kerajaan Mambalan menghembuskan nafas terakhir. Inilah makna “Tiga Rasa”, yaitu seorang Syekh yang menjadi penyebar Islam pada Kerajaan Mambalan dimusuhi oleh para pasukan Kerajaan Mambalan karena dirinya telah melakukan interpeksi pada pasukan-pasukan Kerajaan Mambalan bahwa mereka memiliki prilaku menyimpan. Akhirnya atas kekerjasamaan antara Kerajaan Mambalan dengan Kerajaan karang Asem terhadap seorang Syekh penyebar ajaran Islam, ia pun merasakan tiga kali tembakan di salah satu bukit yang ada di Desa Gelangsar hingga menghembuskan nafas terakhir. Akhir kata, itulah sebabnya bukit yang indah ini disebut sebagai “Bukit Tiga Rasa”. Sementara kata “Bintang” pada nama bukit yang menjadi bagian dari Desa Wisata Gelangsar yaitu karena dari semua bukit indah yang ada di desa ini, Bukit Tiga Rasa merupakan bukit yang paling indah atau paling berbintang, dan paling ramai dikunjungi oleh orang-orang.

Cerita lain yang tekait dengan Bukit Bintang Tiga Rasa adalah bahwa pada awalnya bukit ini merupakan lokasi para kelompok bersepeda gunung. Gunawan, salah seorang warga sekitar mengatakan, “Awalnya, yaitu Pada tahun 2017, bukit ini menjadi lokasi bersepeda dari Komunitas Sepeda Tinjal NTB. Itulah sebabnya pada bukit ini terdapat jalan trek sepeda. Namun, pemerintah tetap mengharapkan agar kegiatan olah brsepeda di bukit ini menjadi ajang promosi wisata desa, karena di kawasan ini memang juga terdapat air terjun gumbur dan air terjun geripak,” ujarnya ketika ditemui di atas sebuah gardu lepas pandang yang berbentuk perahu.

 

Baca Juga :


Dalam pengembangannya, walaupun pada awalnya bahwa Bukit Bintang Tiga Rasa merupakan sebuah lokasi bersepeda gunung, akan tetapi karena banyaknya orang-orang yang  sering berkunjung di lokasi ini yaitu dengan melewati trek jalan sepeda, akhirnya pihak kelompok pemuda desa melakukan kerjasama dengan pemerintah desa dalam membangun lokasi ini menjadi sebuah obyek wisata alam. Dalam memperkuat pembangunan wisata tersebut, akhirnya kelompok pemuda desa membentuk Kelompok Pemuda Sadar Wisata (Pokdarwis) pada tahun 2018, dan sebagai ketuanya adalah Khaerul Anwar.

Muhad selaku kordinator Pokdarwis mengatakan, “Kepala Desa Galangsar ABD. Rahman, S.Pd tetap berusaha mengeluarkan anggaran atau dana dari desa, dan pada tahun 2019 kepala desa mengeluarkan anggaran untuk pembangunan wisata alam Bukit Bintang Tiga Rasa , termasuk biaya pembangunan gardu-gardu lepas pandang yang ada di atas bukit ini. Namun, sistem pengelolaannya berada di tangan kelompok pemuda,”ujarnya.

Fasiltas lain yang ada pada kawasan Bukit Bintang Tiga Rasa yaitu sebuah lapak makan dan minum, yaitu posisinya berada di dekat lahan parkir. Mengenai keamanan kendaraan, para tukang parkir sangat menjaga kendaraan-kendaraan yang ada dengan sistem penomoran, yang biayanya hanya dua ribu rupiah perkendaraan, atau sepeda motor. Oh, iya kendaraan yang bisa menjangkau lokasi wisata ini hanya kendaraan sepeda motor, mengingat rute perjalanan menuju ke lokasi ini harus melewati trek jalan sepeda tijal yang masih sangat sempit dan berupah tanah, atau melintasi lahan perkebunan di pinggir tebing. Kecuali di ujung jalan bukit yang berupa aspal beton, kendaraan beroda empat dapat memarkir di tepi jalan, atau jalan masuk menuju lokasi obyek wisata alam ini. Hanya saja, apabila membawa kendaraan ke atas bukit ini harus berhati-hati karena fisik jalan sangat terjal dan berliku. Sangat cocok bagi pengendara yang akan uji nyali.

Jarak tempuh menuju ke ke kawaasn Bukit Bintang Tiga rasa, yang mana bila beranjak dari Kota Mataram, pengunjung dapat menempuh perjalanan sekitar tiga kilo meter. Namun ketika sudah menemukan pusat perkampungan Desa Gelangsar, kita pun siap-siap  untuk melewati tanjakan yang cukup terjal dan berliku ke atas bukit, yaitu kurang lebih lima ratus meter ke atas bukit. Sesampainya di jalan masuk menuju lokasi obyek wisata Bukit Bintang Tiga Rasa, pengendara sepeda motor masih harus menempuh fisik jalan yang berupa tanah, yaitu sekitar dua ratus meter. Setibanya di lahan parkir, sekitar dua ratus meter lagi yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Fisik jalan menuju ke gardu-gardu lepas pandang yang mana para pengunjung harus melewati jalan sempit yang berupa tanah, dan atau melintas di lahan perkebunan yang sering dilewati oleh kelompok sepeda gunung.

Fasilitas yang berupa hotel atau bunga law belum tersedia. Namun menurut dari Muhad selaku kordinator Pokdarwis bahwa untuk penginapan, yan mana warga masyarakat siap menyewakan rumahnya.

Lanjut bicara, Muhad mengutip perkataan Fauzan Khalid selaku Bupati Lombok Barat pada acara pengukuhan Pok darwis Bukit Bintang Tiga Rasa Desa Gelangsar di halaman Kantor Desa Gelangsar Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, rabu 3 april 2019, “Masalah penginapan bagi wisatawan dapat dilakukan dengan cara meminta kepada warga masyarakat untuk menyewakan rumah. Dalam hal ini, tentu tuan rumah dapat memperlihatkan aktifitas keseharian meeka, termasuk dalam hal keagamaan pada wisatawan,”ujarnya.

Hal lain yang dapat dijumpai oleh wisatawan pada wisata desa Bukit Bintang Tiga Rasa, yaitu berbagai macam bentuk kearifan lokal, seperti bagaimana warga petani mengola kebun, aktifitas keseharian rumah tangga serta pola interaksi masyarakat dalm berkehidupan.

Selain itu, Gunawan yang selaku warga sekitar juga menyampaikan kalau dalam acara pengukuhan Pok darwis Bukit Bintang Tiga Rasa pada rabu 3 april 2019 , yang mana Fauzan Khalid selaku Bupati Lombok Barat mengatakan bahwa trend pariwisata baru yaitu dengan memunculkan home stay di desa-desa sebagai penunjang pariwisata. Namun, ketika wisatawan menyewa rumah-rumah warga yang sebagai home stay tentu terkesan menginap di hotel-hotel.

Muhad lanjut bicara, “Bahwa dalam menanggapi trend pariwisata baru di desa, kami dari kelompok pemuda sadar wisata berupaya agar kreativitas masyarakat  bisa menjual aktifitas kehidupan sehari-hari. Karena wisata desa mulai dijelajahi oleh wisatawan manca negara sebagai sesuatu yang baru dan unik. Hal ini juga tentu merupakan salah satu sumber mata pencaharian masyarakat,” ujarnya menutup pembicaraan.

 



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085333838169, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan