Cari

Tutup Iklan

Menyusuri Pesisir Lamere, Celebes Van Bima

Menyusuri Pesisir Lamere, Celebes Van Bima

Begitu tiba di Sape Pak Iwan Setiawan langsung mengambil jalan menuju Tawali, agak lupa-lupa ingat semenjak beliau meninggal Sape terakhir kali

Wisata Jalan Jalan

Menyusuri Pesisir Lamere, Celebes Van Bima

Menyusuri Pesisir Lamere, Celebes Van Bima

Menyusuri Pesisir Lamere, Celebes Van Bima

Fahrurizki
Oleh Fahrurizki
05 Juli, 2017 07:44:57
Wisata Jalan Jalan
Komentar: 0
Dibaca: 3472 Kali

Begitu tiba di Sape Pak Iwan Setiawan langsung mengambil jalan menuju Tawali, agak lupa-lupa ingat semenjak beliau meninggal Sape terakhir kali tahun 1979. Setibanya di Desa Sape Sangia. Saya, Mbak Weny serta Pak Iwan, sejenak mengunjungi desa tersebut dimana kenangan masa kecil pak Iwan Setiawan teruntai indah. “Dulu saya sekolah di SD Inpres Sangia” katanya, sambil memarkirkan mobil.  

Begitu di SD Inpres Sangia, Pak Iwan Setiwan menceritakan kisah kecilnya, dimana dahulu Ibunya ditugaskan mengajar di SDN 3 Sangia dan Pak Iwan serta adiknya sendiri sekolah di SD Inpres Sangia yang jaraknya masih berdekatan. “Di Desa ini saya juga punya Ibu susu serta saudara persesusuan,” kenangnya.

Iwan Setiawan adalah seorang blogger asal Bogor, namun beliau lahir di Bima. tiap mudik ke Bima Pak Iwan, saya beserta teman-teman blogger maupun penggiat fotografi lainnya pasti menyusuri beberapa tempat yang menarik, mempunyai nilai cultural, tidak memandang indah cuman nilai budaya yang paling mengasyikkan, tiap-tiap gang kecil kami telusuri, hingga tercipta foto-foto yang bercerita.

Setelah sudah bernostalgia dengan Desa Sangia, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Lamere, yang awalnya sudah masuk menjadi rencana destinasi. Begitu 10 menit perjalanan dari Sangia, kamipun tiba di Lamere. Tidak ada kendala maupun jalan yang rusak mobil kami melaju dengan tenang memasuki desa pesisir tersebut.

Mobil di parkir depan Masjid, semua peralatan dan bekal kami bawa, dan petualangan mengarungi Lamere-pun dimulai. Rumah panggung ala bugis dengan ciri warna-warna cerah berjejer  di gang tampak sangat menarik. Lamere salah satu desa di Sape yang terletak di utara teluk Sape, dominan penduduknya adalah nelayan. Kegiatan masyarakat pesisir menjemur ikan, membuat kapal atau memperbaiki kapal bocor, serta yang paling menarik anak-anak pesisir yang menjadikan kapal tempat bermain untuk mereka. Tempat pesisir seperti ini merupakan surga bagi penggiat foto Human Interest (HI).

Memasuki gang kecil menuju tempat pembuatan kapal, namun aktifitas pembuatan kapal sedang berlibur, kata salh satu warga desa berhubung masih liburan lebaran. Namun dari kejauhan terdengar aktifitas pekerja di salah satu perahu yang tampak masih belum selesai pembuatannya. Kamipun menghampiri perahu tersebut, dua orang sedang mengerjakan papan untuk kapal, cuman sebentar kami melihat keahlian mereka ketika membuat kapal karena tiba jam istirahat dan mereka akan melakukan makan siang.

Kemudian kami melanjutkan menyusuri tepian Lamere, suara anak-anak terdengar di atas sebuah kapal yang belum utuh jadi, lalu selang beberapa detik teriakan menangis terdengar keras, ternyata seorang anak kecil diatas kapal menangis, awalnya kami mengira dia menangis karena takut akan ketinggian, namun kami salah kaprah sebab dia menangis karena di tinggal kakaknya, setelah melihat anak-anak Lamere bermain di atas badan kapal tersebut mereka dengan lincah menapaki papan kayu dan duduk di ujung atas badan kapal sambil memancing.

Menyaksikan anak-anak bermain di atas kapal, kamipun dengan asiknya mengambil foto mereka di bawah. “Kaka kayo foto kami” pinta seorang anak perempuan dari atas lambung kapal, seketika itu saya dan Pak Iwan langsung mengambil foto mereka, dengan sumringahnya mereka tertawa bahagia karena di foto. Sudah menjadi tradisi anak-anak pesisir kapal dan pantai adalah taman bermain untuk mereka.

Baca Juga :


Setelah berlama-lama menyaksikan anak-anak bermain diatas kapal, kami melanjutkan menyusuri desa Lamere, bau jemuran ikan menjadi ciri khas pesisir serta bau solar untuk bahan bakar perahu dan kapal mereka. Di bawah rimbunnya sebuah pohon asam yang terdapat ditengah-tengah desa Lamere, terdapat banyak anak-anak kecil yang sedang asik bermain gelang karet, namanya ‘Mpa`a Geta’ dimana gelang karet diikat menjadi satu lalu dari jauh dilempar hingga masuk kedalam tiga paku yang dipasang ditanah.

Permainan itupun tidak luput dari kamera kami, walaupun berdebu saya bersama Pak Iwan rela jongkok hingga mendapatkan momentnya yang bagus. “Aco ayo lempar geta kamu” kata seorang anak pada temannya yang bernama Aco. Mendengar nama itu sontak saya teringat pada semua tempat yang dihuni oleh Suku Bugis dan Badjo pasti terdapat nama Aco bagi anak laki-laki. Berhubung desa Lamere mayoritas penduduknya berasal dari Sulawesi, ada yang dari Bone, Mandar, Bulukumba serta daerah Sulawesi lainnya. Di Lamere bahasa keseharian mereka adalah bahasa Bugis dan Badjo jadi untuk bahasa Bima hanya digunakan oleh orang dewasa ketika mereka berinteraksi dengan penduduk lokal.

Teringat saya pernah mengunjungi Lamere tiga tahun silam tepatnya pada tahun 2014, kemudian saya membuka kembali buku agenda perjalanan, ketika itu saya pernah mewawancarai seorang Matoa di desa tersebut yang bernama Puan Razi, beliau datang di Lamere ketika pemberontakan Kahar Muzakar tahun 1960-an dan adiknya Puan Rahim datang pada tahun 1975, karena ingin mencari tempat kehidupan yang aman dan damai akhirnya Puan Razi memilih Pulau Sumbawa.

Puan Razi bercerita sejarah desanya, sebelumnya Lamere dahulu tanah kepunyaan dari seorang saudagar bugis  bernama Haji Rauf Ali yang dikenal dengan nama Ua Ncoi, dahulu Lamere dijadikan sebagai tempat peternakan kuda-kuda milik Sultan Bima, dan Ua Ncoi bertanggung jawab untuk menjaga serta memeliharanya. Dahulu terdapat Barungku (Barugak) besar di Lamere dimana tempat untuk menunggui kuda, kata Puan Razi.

Mendengar dari kisah Puan Razi, dari berbagai sumber memang dahulunya dijadikan tempat pelepasan kuda-kuda milik Sultan selain di pulau Sangiang. Nama Lamere sendiri sejak awal kedatangan dari para leluhur Sulawesi (Celebes) di tanah Bima, sudah terdapat nama pada sebuah batu yang bertuliskan Lamere, ungkap Puan Razi.

Dua jam lebih kami mengelilingi pesisir Lamere, akhirnya kami harus beranjak dari desa istimewa tersebut, karena Pak Iwan juga harus bertemu dengan beberapa sobat lamanya. Suatu pengalaman yang menarik bisa datang kedua kalinya di desa ini, berbagai kisah dan ragam budaya bersatu dalam desa Lamere. [] - 01



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan