logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kawin Dulu Baru Bisa Keluar

Kawin Dulu Baru Bisa Keluar

Pulau Kaung mungkin tidak banyak yang pernah datang mengunjunginya mungkin kalah terkenal dengan pulau tetangganya yaitu Bungin, untuk itu saya mencoba

Wisata Jalan Jalan

Fahrurizki
Oleh Fahrurizki
22 September, 2014 09:27:19
Wisata Jalan Jalan
Komentar: 14
Dibaca: 10674 Kali

Pulau Kaung mungkin tidak banyak yang pernah datang mengunjunginya mungkin kalah terkenal dengan pulau tetangganya yaitu Bungin, untuk itu saya mencoba memperkenalkan pulau Kaung yang tidak kalah menarik dari Bungin, di kaung ini juga banyak menyimpan sejarah dan keunikannya, sejak memasuki Kaung suasananya pun hampir sama dengan Bungin yaitu aroma laut dan arsitektur rumah panggung kayu khas pesisir suku badjo dan Bugis, semua penduduk Kaung berasal dari Suu Badjo, Mandar dan Bugis di Sulawesi dan beberapa juga sudah kawin mengawin dengan orang pribumi (Sumbawa).

Pagi hari sekitar jam 9 saat memasuki pulau Kaung saya terkejut melihat seekor kambing memakan kertas dengan lahapnya seperti dia memakan daun, sayapun menanyakan hal itu kepada seorang ibu yang sedang menyapu halaman, sang ibupun bilang bahwa kambing disini memang sukan makan kertas.

Kemudian saya melanjutkan untuk berkeliling pulau Kaung bersama dua orang teman si Alam dan si Lance yang sudah duluan didepan untuk menuju dermaga kaung, saya terpana melihat rumah-rumah di kaung dengan aneka warna-warni cat rumah mereka yang mencolok sangat indah dan membuat suasananya ceria, Pulau kaung masuk di wilayah Desa Kaung Kelurahan Buer Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa.

Setelah sampai di dermaga Kaung suasanya begitu mempesona dengan lautnya yang jernih dan bangau-bangau bermain di dekat dermaga, ada kejadian yang lucu saat kami di dermaga yaitu saat saya meminta ijin untuk foto ibu tersebut diapun memberikan ijin, kemudian ibu itu menyuruh saya untuk memfoto seluruh rumahnya sayapun menyanggupinya lalu si ibu bertanya “nak kapan kira-kira rumah saya di bedah?” saya terheran dan menanyakan kembali kepada ibu tersebut “maksud ibu saya petugas untuk foto bedah rumah dari kecamatan ya?” dan ibu pun menjawab “iya nak”, waduh..saya pun tertawa dan menjelaskan kepada ibu itu bahwa saya hanya pengunjung di pulau kaung, si ibupun tertawa dan meminta maaf kepada saya.

Berhubung kunjungan kami dipulau kaung hari jum`at maka sedikit aktifitas dan ramai, karena biasanya di hari-hari yang lain kaum pria di kaung sangat sedikit kebanyakan melaut atau mencari ikan sehingga kaung kelihatan sepi, di setiap hari jum`at mereka libur dari pekerjaan melautnya karena hal ini sudah tradisi sejak nenek moyang mereka dan tukang kayu di kaung juga tidak menerima tawaran kerja di hari jum`at.

Kamipun berkeliling lagi di pulau kaung disebelah utara pantainya, dibawah pohon kelapa kami duduk diatas perahu yang sedang diperbaiki, sambil menikmati pemandangan teluk Santong, kemudian datang seorang menghampiri kami dan berkenalan dengan kami, beliau bernama Pak Sumardin asal Kaung yang bekerja sebagai budidaya mutiara dan bertani.

Pak Sumardinpun bercerita kepada kami tentang asal-usul sejarah Kaung, bahwaa dulunya kaung ini merupakan pulau kosong dan nenek moyang mereka bertempat tingga di pulau sebelah di teluk saleh, setelah meletusnya gunung Tambora dan memberikan dampak yang sangat ekstrim pada kondisi cuaca saat itu, kelaparan melanda dan wabah penyakit, kemudian nenek moyang yang selamat dari letusan Tambora pindah dan menemukan pulau kemudian mereka merangkul semua korban yang selamat dari letusan tambora untuk menempati pulau itu, sehingga pulau itu diberi nama Kaung yang berarti merangkul bersama.

 

Baca Juga :


Setelah selamat dari letusan Tambora ada satu masalah lagi yang mereka hadapi, kata Pak Sumardin yaitu kelaparan dan ikan-ikan banyak yang mati, tanah tidak bisa untuk menanam selama beberapa tahun akhirnya dulu nenek moyang mereka menjadi bajal laut atau perompak mencuri dari kapal-kapal yang.

Ada yang lebih sangat unik dan menarik lagi yang diceritakan oleh Pak Sumardin yaitu tentang mitos pulau Kaung. Bentuk pulau Kaung ini berbentuk seperti huruf U dimana bila ada pendatang dari luar pulau yang mempunyai niat jahat maka dia tidak akan bisa keluar dari pulau tersebut dan juga bila ada pendatang yang kesasar dan tidak bisa keluar maka dia harus menikahi wanita kaung baru bisa keluar, “di pulau Kaung kawin dulu baru bisa keluar,” kata Pak Sumardin sambil tertawa.

Biasanya para nelayan Kaung saat ini mampu mencari ikan sampai ke Sulawesi, Halmahera dan Papua memakan waktu selama tiga bulan hanya untuk mencari ikan berombongan dengan menggunakan 20 kapal, cerita Pak Sumardin.

Setelah itu kamipun pamit kepada Pak Sumardin untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Bima, sungguh sangat luar biasa bisa mendengarkan sejarah dan budaya pulau Kaung dari penuturan Pak Sumardin seorang yang humoris dan bersahabat.[] - 05



 

Artikel Terkait

14 KOMENTAR

  1. KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    08 Februari, 2015

    mas, saya juga sring ke pulau kang...di sana ada pak tarsila si pengrajin aksesoris. itu yang bagus ditulis mas. sering saya ke sana ambil gelang akar batu (akar bahar). Awalnya sih saya bawa mahasiswa sosiologi stkip hamzanwadi selong penelitian di sana. udah dua kali saya bawa rombongan mahasiswa di sana. Terkadang kalau saya di bungin nginap neyeberang dah saya ke kaung.


  • KM. Putri Duyung

    KM. Putri Duyung

    20 Oktober, 2014

    jadi pengen berkunjung penasaran alnya...


    1. Fahrurizki

      Fahrurizki

      20 Oktober, 2014

      tempatnya sangat indah dengan aneka ragam rumah2 kayu khas bugis


  • KM LENGGE

    KM LENGGE

    25 September, 2014

    BOLEH JUGA TUH...UNTUK DIKUNJUNGI,,,,,,,,,,,,,,,BAGUS INFORMASI NYA PAK...... KARENA TUGA KITALAH YANG BISA MEMPUBLIKASIKAN POTENSI BUDAYA, SEJARAH DAN KESENIAN YANG ADA DI KAMPUNG KITA......


  • Fahrurizki

    Fahrurizki

    23 September, 2014

    terima kasih mas randal infonya


  • KM. Mesra Seteluk

    KM. Mesra Seteluk

    23 September, 2014

    hahaha, gimana kalo si kesasar tidak mau kawin-kawin???


    1. Fahrurizki

      Fahrurizki

      07 Februari, 2015

      kalo kesasar, di tanggung sendiri..hehe


    2. Fahrurizki

      Fahrurizki

      23 September, 2014

      mungkin dia tidak mau mnduakan istrunya..hehehe


  • KM. Serambi Brangrea

    KM. Serambi Brangrea

    23 September, 2014

    oh ternyata Kaung artinya merangkul?! baru tahu neh....thanx infonya....insya nanti kaung mungkin akan menyusul Bungin mejadi Pulau terpadat di Dunia......apalagi dengan adanya mitos kawin dulu baru bisa keluar pastinya akan semakin padat penduduknya.


    1. Fahrurizki

      Fahrurizki

      07 Februari, 2015

      kalo Bungin mngkin akan semakin padat


  • KM. Tembe Nggoli

    KM. Tembe Nggoli

    23 September, 2014

    syukur tidak kesasar, kalau nda kawin dulu baru bisa keluar...


    1. Fahrurizki

      Fahrurizki

      23 September, 2014

      bukanya kemarin pak alam sengaja mau kesasar..hahahaaa


  • Randal Patisamba

    Randal Patisamba

    22 September, 2014

    Sangat menarik mengupas sejarah dan budaya suatu masyarakat. Jikalau kesasar tak ada ruginya toh gadis Kaung terkenal cantik molek,heeheeee Mungkin sedikit diralat: Buer sudah memekarkan diri menjadi kecamatan tersendiri yaitu Kecamatan Buer Ibukotanya Pernang.


    1. Fahrurizki

      Fahrurizki

      25 Mei, 2016

      terima kasih infonya bang


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan